Ticker

6/Berita/ticker-posts

Advertisement

Responsive Advertisement

Upacara dan tradisi bercocok tanam di masyarakat Melayu : Melayu Riau

 


A. Upacara menentukan tempat berkebun

Upacara ini dilakukan untuk mencari tempat yang cocok untuk dibuat ladang dan tidak mengganggu keserasian lingkungan sekitar, baikmakhluk hidup maupun makhluk gaib. Upacara ini dpimpin seorang pawang yang disebut tok bomo. Tok bomo memimpin upacara dengan cara membaca qumul Qur’an, Surah al Ikhlas, Surah Al Falaq, dan Surah Annas yang masing-masingdibaca tiga kali bersama masyarakat yang hadir.

B. Upacara menebang kayu besar

Pohon besar sering dianggap menjadi kediaman makhluk-makhluk yang tidak dapat dilihat. Makhluk halus itu sering disebut sebagai penunggu atau puake. Untuk menjaga keseimbangan terhadap lingkungan maka dilakukan upacara menebang kayu besar sebagai permohonan ijin untuk menebang pohon besar tersebut. Peralatan yang digunakan dalam upacara ini antara lain; kapak, parang, korek api, tali serta minyak. 

Tata cara yang dilakukan pada upacara ini diawali dengan tok pawang duduk diatas bone (akar pohon kayu) dan menghadap pohon kayu. Mengucapkan salam dan hajat kepada penunggu pohon yang berbunyi : Assalamualaikum Datuk Nenek, disini minta undur ikak dari pohon inim aku hendak menebang kayu ini. Dilanjutkan membaca Ummul Quran dan ayat kursi masing-masing sebanyak 3 kali berturut-turut. Ayat terakhir pada ayat kursi dibaca sebanyak 7 kali. Bacaan ini dibaca dengan tujuan menghalau setan yang mendiami tempat-tempat tersebut.

C. Upacara menyemah tanah

Upacara ini merupakan upacara untuk meminta ijin kepada pennunggu tanah untuk melaksanakan hajat ditempat tersebut. Upacara ini tidak hanya dilakukan untuk penentuan tempat berkebun tapi juga bisa dilakukan untuk upacara mendirikan rumah. Jika upacara yang dilakukan adalah upacara untuk mendirikan rumah maka perlu dibuat lubang terlebih dahulu untuk menancapkan tiang seri yaitu tiang pertama bangunan itu. 

Tata caranya sebagaimana tok bomo mengucapkan : Nasrun minallahi wafathun qorib, hiula cinta mani, nur Allah dijadikan Allah yang rendah ditinggikan, yang penuh dilimpahkan sebagai bulan pernama bagai burung cendrawasih, bagai air dalam balag, bagai telaga dibawah bukit, dari syarib ke Magrib, minta buang sial dan malang, berkat doa lailahaillahmuhammadurrasulullah. 

D. Upacara Doa Padang

Upacara ini dilakukan dengan berdoa di ladang atau sawah ketika akan turun berladang dan bersawah. Upacara ini diikuti oleh pemuka daerah atau kampung. Upacara ini dilkasanakan pad waktu yang telah disepakati oleh masyarakat yaitu ketika akan dimulai turun ke ladang atau kesawah. Dalam upacara ini disertai dnegan pemotongan kambing atau sapi yang telah diusahakan oleh masyarakat. Dalam upacara ini diiringi acara kesenian Rarak dan puuncaknya mengadakan zikir tauhid dan doa sambil meniupkannya ke segala penjuru ladang serta kampung agar segala gangguan menghilang.

E. Upacara Panen Padi

Upacara diadakan ketika akan memanen padi. Upacara ini dilakukan dengan memanen secara beramai-ramai atau disebut batobo. Batobo atau toboh berarti berakawan-kawan, berkelompok atau bersama-sama untuk mengelola lahan pertanian.

Batobo dalam berladang dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu ; menyemulo (mencangkul lahanpertama kali), membalik tanah (mencangkul lahan untuk kedua kali), melunyah (menggemburkan tanah), menanam benih, dan memanen.  

Jika hasil panen petani mencapai batas nisab/zakat juga diadakan acara doa yang diikuti dengan zikir dan kesenian rebana. 

F. Mengilang Tebu

Upacara ini merupakan serangkaian upacara panen padi yang dilakukan setelah panen padi selesai, untuk memanen kebun tebu yang berada di sekitar ladang atau sawah yang telah dipanen dengan cara mengilang.  Pekerjaan kebun tebu ini antara lain mencari pagar, panen dan mengilang dilakukan petani secara bergotong-royong. Proses mengilang diiringi dengan kesenian Rarak. Tujuan dari mengilang tebu ini sebagai hiburan petani setelah panen padi selesai.